MamahDede.com

Situs Parenting Indonesia

Bagaimana berkompromi dengan anak agar tidak rewel saat bepergian ke tempat umum?

Posted in Keluarga

MamahDede.com

Aldo merajuk. Anak berusia 4 tahun itu duduk dekat etalase mainan robot yang diinginkannya. Ia menuntut dibelikan, padahal di rumah tadi santi sudah bilang tujuan mereka ke supermarket hanya untuk belanja susu.

“Aldo mau ini!” rengeknya ngeyel.

Nggak bisa, Aldo jangan sekarang ya Santi berusaha membujuk. Namun, tangis Aldo pecah dan menarik perhatian pengunjung supermarket.

Selalu begitu! Setiap diajak ke mall atau supermarket, Aldo pasti rewel Minta main itu lah, minta dibelikan mainan yang lagi trend, pokoknya ada saja yang dimintanya dan tangisnya baru berhenti jika dilihatnya ayah dan ibunya kewalahan dan menuruti kehendaknya

Repot juga kalau setiap bepergian begitu, apalagi ketika tanggal tua dan masih banyak prioritas yang harus didahulukan. Jadi,bagaimana ya cara berbicara pada Aldo supaya tidak rewel dan minta ini itu jika sedang bepergian?

Jawaban :

Ayah dan Bunda, ingatlah selalu untuk memberikan penjelasan dan membuat perjanjian dengan anak sebelum bepergian. Jelaskan Anda mau pergi ke mana dan apa yang akan dilakukan di sana.

Apakah Anda ke mall hanya untuk berbelanja, makan, membeli keperluan sekolah, dan sebagainya. Ulangilah sekali lagi kesepakatan yang telah Anda buat bersama anak persis sebelum berangkat. Ayah dan Bunda bisa menerapkan reward dan consequences sebagai imbal balik perilaku anak.

Kalau anak patuh pada kesepakatan, berikan reward ha-hal yang diperlukan atau disenangi anak
Misalnya akan dibelikan buku karya pengarang favoritnya, boleh bermain game selama 30 menit ketika pulang nanti, dan lain sebagainya. Begitu juga, ketika anak melanggar kesepakatan, berilah konsekuensi , “Kalau kamu menangis, kita langsung pulang ya atau “Kamu boleh menangis kalau Mama nggak menuruti keinginan kamu nanti, tapi tetap nggak dapat apa-apa loh. Tujuan kita ke mall hanya beli tas sekolah, bukan yang lain Pastikan konsekuensi hukumannya adalah yang segera dapat
dilakukan di tempat kejadian. Jangan mengatakan bahwa nanti kalau pergi ke mall lagi tidak diajak, karena Ayah dan Bunda bisa saja lupa akan “janji” ini dan anak menganggapnya tidak serius.

Selanjutnya saat tiba di mall, jika anak meminta sesuatu di luar kesepakatan, misalnya mau masuk ke arena bermain, sementara dalam perjanjian tidak ada agenda tersebut, jelaskan bahwa itu di luar dari kesepakatan. Ayah dan Bunda bisa mengatakan, “Kalau Ade mau main, nanti kita ke sini lagi khusus untuk main di sana Bermain kan nggak ada dalam perjanjian Bagaimana kalau anak menolak? Ayah-Bunda dapat melakukan eskalasi reward dan konsekuensi. Biasanya anak-anak memiliki kegemaran dari yang tingkatannya agak suka, suka, dan sangat suka. Saat akan melakukan konsekuensi
Anda bisa memilihnya dari yang tingkatannya paling bawah. Misalnya kesukaan anak dari yang paling bawah adalah menonton TV main sepeda main game. Maka, ketika anak mulai melanggar perjanjian, Anda bisa guna-kan eskalasi konsekuensi yang paling bawah. “Kalau Ade memaksa, kita
pulang dan malam ini nggak ada kegiatan menonton TV acara kesukaanmu.”

Kalau anak tidak juga mengindahkan dan masih melanggar, naikkan ke konsekuensi berikutnya. Misalnya, “Kalau kamu tetap memaksa, nanti malam tidak boleh nonton TV dan besok tidak
ada main sepeda,” dan seterusnya. Naikkan setiap kali anak me- lawan. Biasanya kalau Anda baru pertama kali menerapkan sistem eskalasi, anak cenderung melawan. Ayah dan Bunda sebaiknya tetap melakukan secara konsisten, hindari rasa tidak tega atau kasihan. Namun, apa pun yang di- lakukan anak, Anda tetap memberi penekanan bahwa mereka adalah anak baik

Yang perlu dipertahankan orangtua adalah menjaga konsirsistensi Jangan sampai justru orangtuanyalah yang melanggar perjanjian. Awalnya hanya mau ke toko buku, tetapi karena ada
diskon besar-besaran, terpaksa deh mampir beli baju baru. Atau saat anak meminta bermain, orangtua tidak tega dan kasihan, apalagi melihat anak orang lain asyik bermain, akhirnya melanggar kesepakatan yang sudah dibuat. Bisa dipastikan lain waktu anak Anda akan melakukan pemaksaan yang sama. Selain masalah kesepakatan, perlu diperhatikan juga apakah anak rewel dikarenakan kelelahan atau memang kebiasaan.

Ayah dan Bunda tentu memahami karakter anak dan bisa menerka jenis rewel yang mana yang muncul saat itu. Jika memang anak kelelahan dan memang sudah jamnya ia tidur, jangan mengguna
kan emosi dan berikan anak waktu beristirahat sejenak supaya ia tenang kembali

Close
Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better