MamahDede.com

Situs Parenting Indonesia

Bagaimana mengatasi anak yang menjadikan tangisan sebagai senjata untuk mendapatkan keinginannya?

Posted in Keluarga

MamahDede.com

“Maaa… gigi Doni sakiiit…,” rengek anak lelaki itu. Ibunya menoleh dengan perasaan gusar.
“Mama kan udah bilang, jangan kebanyakan makan permen, sakit lagi kan giginya.”
Selalu begitu… anaknya itu hobi makan permen dan tidak kira-kira jumlahnya. Sehari-hari bisa tujuh hingga sepuluh buah permen, lalu tidak mau menggosok giginya. Bagaimana tidak berontak giginya diperlakukan demikian?
Wajah Doni memerah dan pipinya membengkak. Tidak tega juga Selvy melihatnya. Langsung ia membuat janji temu dengan dokter gigi langganan mereka.
Sebetulnya setiap kali Doni mita dibelikan permen, Selvy sudah menolak. Doni paham betul bagaimana menaklukkan hati mamanya. Setiap mamanya menolak, Doni akan beraksi dengan merengek dan menangis, hingga membuat hati mamanya runtuh atau terpaksa menuruti keinginannya.
“Bagaimana gak diturutin, nangisnya saja kencang banget, bisa didengar orang sekampung!” Begitu Selvy beralasan kalau ditanya suaminya kenapa selalu menuruti keinginan Doni.
Sebenarnya bagaimana sih, cara bersikap yang bijaksana ketika anak menggunakan tangis sebagai sejata untuk meraih keinginannya?
Jawaban :
Ayah dan Bunda yang bijaksana, ketika anak menggunakan tangisan untuk bisa memperoleh apa yang diinginkannya dan berhasil maka pada kesempatan berikut, ia akan mengulanginya. Jika orangtua tidak mencoba menghentikannya, buka tidak mungkin hal ini akan berulang terus-menerus, bahkan semakin menjadi karena disertai perlawanan yang lebih keras lagi.
Saat keinginan anak belum bisa Ayah-Bunda penuhi, katakanlah baik-baik bahwa untuk saat ini Anda belum bisa memenuhi keinginannya. Kalau memang keinginannya masuk akal, tetap Anda belum bisa mengabulkannya, jelaskan kapan Ayah dan Bunda bisa memenuhinya. 


Biasanya respons anak adalah menolak dan menangis. Tidak mengapa, tetaplah tenang dan tidak terpancing akan ulahnya. Katakanlah, “Nak, ayah belum bisa memenuhi kemauanmu sekarang. Kalau kamu masih mau menangis, silahkan, Nak. Ayah akan tunggu sampai kamu selesai menangis, ya.”
Tetaplah konsisten pada pendirian ayah dan Bunda. Jangan lekas luluh akan tangisannya, kemudian menuruti kehendak anak. Dan, semangatilah anak dengan mengatakan, “Ayah tahu kamu anak baik, nanti kalau sudah selesai menangis, bilang ama Ayah ya…”
Banyak orangtua susah menerapkan teknik ini. Mereka berpikir aangkah kejamnya hati orangtua kalau membiarkan anaknya menangis dan mengamuk seperti itu. Padahal, inilah yang dimaksud dengan ketegasan dan konsistensi. Bukan berarti tidak sayang atau tidak Peduli. Dengan bersikap tegas dan konsisten, lama-kelamaan anak menyadari bahwa senjata tangis dan amarahnya tak mempan lagi digunakan dan bisa diajak kompromi. Sekali kita berhasil melakukannya, anak akan belajar dari konsistensi ucapan orangtua dan berhenti untuk memaksakan kehendaknya.
Kalau sudah tenang dari tangis atau amarahnya, biasanya seorang anak memberikan sinyal-sinyal perdamaian untuk berkomunikasi kembali dengan orangtuanya. Jika sudah terlihat tanda-tanda itu, segeralah sambut dengan positif, misalnya memberi pelukan dan mengatakan bahwa ia memang anak hebat dan baik. Dengan cara ini, Ayah dan Bunda telah mengajari anak untuk mengendalikan diri dan anak bisa memahami mana prilaku yang baik dan kurang baik.
Dan sebagai orangtua, kita perlu menghindari ucapan yang melemahkan seperti, “Dasar kamu anak cengeng, selalu menyusahkan, senang bikin repot,” atau ancaman-ancaman kosong seperti , “awas ya, nanati kalau Mama pergi tidak diajak lagi,” karena itu sama sekali tidak memberikan solusi untuk mengubah prilaku anak kita.
Jika suatu saat ia mengulangi perbuatannya itu, jangan menyalahkan anak dan ulangi cara yang sama secara konsisten. Bagaimanapun, ia adalah anak manusia yang baru berusia tiga tahun dan masih harus banyak belajar. Bersabarlah, Ayah dan Bunda…
Disarikan dari buku: Ayah Edy 
Close
Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better