MamahDede.com

Situs Parenting Indonesia

Waspadai Tanda-Tanda Anak DiBully di Sekolah

Posted in Keluarga

MamahDede.com

Anak korban bullying mungkin takkan pernah memberitahukan apa yang terjadi padanya di sekolah pada siapapun, apalagi kepada orangtuanya. Kebanyakan dari mereka takut dengan respons orangtuanya yang biasanya justru memperburuk situasi. Untuk itu orang tua harus tahu apa yang terjadi anak-anaknya.

Ada juga alasan lain yang membuat anak cenderung memilih menutup diri karena kondisi ini. “Mereka khawatir jika mengaku korban bullying maka orangtua akan kecewa,” ungkap Jerry Weichman, PhD, seorang psikolog dengan spesialisasi pada remaja dan anak-anak dari Hoag Neurosciences Institute, Newport Beach, California.
Itulah mengapa penting bagi setiap orang tua untuk mengenali gejala-gejala yang menunjukkan seorang anak menjadi korban bullying, seperti dikutip dari Woman’s Day, Senin (7/10/2013) berikut ini.
1. Kerap mengisahkan tentang bullying tapi secara halus
“Ketika Anda bertanya tentang kabar anak hari ini di sekolah dan mereka mengaku ada ‘drama di sekolah’ atau ‘beberapa anak yang mengacau disana-sini’, ini bisa jadi kode ia jadi korban bullying,” terang Cindy Miller, seorang psikoterapis dan pekerja sosial yang berbasis di New Jersey. Ia juga ikut menulis buku The Essential Guide to Bullying.
Apalagi jika Anda sering mendengar anak berbicara seperti itu, maka lontarkan pertanyaan spesifik seperti, “Ketika kamu berkata ‘mengacau di sana-sini’, apakah ada seseorang yang melakukan kontak fisik denganmu? Apakah seseorang menyebarkan rumor tentangmu atau mengataimu sesuatu? Bagaimana perasaanmu ketika ‘drama’ itu terjadi?”
Tapi apabila si kecil tak kunjung mau terbuka, katakan padanya perbedaan antara melapor dan mengadu. “Melapor itu menyatakan jika seseorang menyakitimu dan kamu mencoba mencari bantuan, sedangkan mengadu itu mencoba membuat seseorang terjebak dalam masalah,” kata Miller. Dengan begini si kecil tahu tak ada salahnya memberikan fakta kepada orangtua.
2. Pulang-pulang lapar
“Bukannya si kecil lupa makan siang, bisa jadi siswa lain mengambil makanannya. Atau mungkin anak Anda memberikan barangnya secara sukarela agar disukai teman-temannya atau mogok makan karena takut berat badan atau apa yang ia makan diejek oleh teman-temannya,” ungkap Miller.
Sekali lagi, cara ampuh untuk mengetahui hal ini adalah bertanya langsung tapi tidak mengancam. Misalnya, “Kamu makan siang dengan siapa hari ini? Apakah kamu menyukai makanannya? Apa yang kalian bicarakan saat makan siang bersama?”
3. Pulang sekolah kemalaman
“Mungkin Anda mengira si kecil asyik bermain dengan teman-temannya, tapi bisa jadi ia sengaja mengambil jalan lain atau tidak naik bus untuk menghindari bullying,” ujar Miller.
Begitu juga dengan perubahan rutinitas sepulang sekolah. Kasus ini terjadi pada anak seorang ibu bernama Tara Kennedy Kline dari Shoemakersville, PA. “Ia mulai menelepon saya dari bus dan bertanya apakah senior-seniornya boleh mampir ke rumah setelah sekolah atau tidak. Padahal normalnya ia baru boleh main setelah PR-nya selesai, dan tidak main sama sekali jika orang tuanya tak ada di rumah,” kisahnya.
Ternyata anak yang terang-terangan melanggar aturan yang diberlakukan orang tua sebenarnya merupakan ‘bendera merah’ bagi si orang tua. Setelah itu Kennedy Kline pun mengetahui jika putranya sering dibully ketika naik bis dalam perjalanannya pulang dari sekolah.
4. Sering kehilangan barang atau rusak
Namanya anak-anak pasti sering ceroboh atau tidak berhati-hati, tapi jika barang-barangnya kerap hilang dan/atau rusak ini bisa jadi pertanda adanya bullying, entah itu tasnya robek atau sepatu yang dilempar keluar bis.
“Orang tua harus terus mengawasi apa ada barang-barang anaknya yang hilang dan mengecek apakah alasan yang ia berikan kepada orang tua dan gurunya sama atau tidak. Jika berbeda, anak Anda mungkin tengah menutupi perilaku buruk orang lain,” saran Dr. Weichman.
5. Uring-uringan setelah mendapat SMS atau main internet
Di masa modern seperti sekarang ini, bullying mungkin takkan berhenti hanya di sekolah saja. Apalagi jika orangtua sudah menduga cyber-bullying juga terjadi pada anaknya, maka si anak harus ditanyai sekaligus dipantau penggunaan medianya.
Selain mengecek situs apa saja yang dibuka si anak ketika browsing, penting bagi para orang tua untuk meletakkan komputer di ‘ruang publik’ yang ada di rumah. Ini demi mengantisipasi reaksi emosi negatif yang mungkin saja diperlihatkan anak ketika mereka merasa tak bisa meng-handle masalah yang dialaminya itu.
6. Mengenakan baju tertutup sepanjang waktu
Jangan sepelekan keinginan anak untuk menggunakan baju-baju tertutup. Bisa jadi ia memang pemalu atau ingin memiliki style berbusana sendiri, tapi kondisi itu juga bisa menunjukkan bahwa si kecil sedang menutupi hasil bullying fisik yang ia miliki.
Dan jika Anda menduga si kecil memang tengah menutupi cedera yang dimilikinya, jangan bereaksi secara berlebihan. “Kalimat seperti ‘katakan pada ibu/ayah siapa yang berani melakukan ini padamu sekarang!’ justru harus dihindari,” tutur Dr. Weichman. Alih-alih begitu, pasang muka biasa saja tapi tanyakan juga apa penyebab luka-luka tersebut.
7. Teman-temannya menghilang
Sebagian besar orangtua tahu siapa teman-teman anaknya; teman mana yang suka menelpon setiap malam, teman mana yang kerap mengerjakan tugas kelompok bersama anak, dan teman mana yang sering menginap. Namun bila tiba-tiba mereka menghilang dan tak pernah terlihat bergaul dengan anak Anda, bisa jadi anak Anda menjadi korban bullying dari teman-temannya itu.
8. Berbohong jika ekskul diliburkan atau selesai lebih cepat
Sekali-dua kali mungkin tak jadi soal, tapi apabila ekskul kerap diliburkan tanpa alasan yang jelas, bisa jadi anak Anda sedang malas mengikutinya karena bullying. Begitu pula dengan perubahan rutinitas atau hilangnya ketertarikan pada hobi.
Terserah bagaimana cara Anda menanggapinya dan membuat si kecil mau terbuka. Dan ketika ia mau memberikan petunjuk tertentu, ingatlah bahwa Anda harus mempercayainya dan mungkin jika dia membiarkannya, situasinya akan semakin buruk.
“Selain itu, terlepas setiap orang tua bisa mengenali gejala bullying pada anak atau tidak, mulailah dialog terbuka tentang bullying sehingga si kecil tahu Anda dapat diandalkan. Mereka juga harus merasa terjamin bahwa ketika bercerita tentang apa yang terjadi, Anda takkan memberikan respons yang memihak,” saran Dr. Weichman.
Close
Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better